Peta Topografi selalu dibagi
dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan
koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori,
koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat
ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara
garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi
dipakai ada dua macam yaitu :
v
Koordinat Geografis (Geographical Coordinate) ; Sumbu yang digunakan adalah garis bujur
(bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan
garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis
khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan
detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai
koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak)
lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik
(30"), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit
(60").
v
Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM) ; Dalam koordinat grid, kedudukan suatu
titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah
Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal
diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke
timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada
peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2
cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung
ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih
dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka
dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).
Koordinat adalah pernyataan
besaran geometrik yang menentukan posisi satu titik dengan mengukur besar
vektor terhadap satu Posisi Acuan yang telah didefinisikan.
Posisi acuan dapat ditetapkan
dengan asumsi atau ditetapkan dengan suatu kesepakatan matematis yang diakui
secara universal dan baku. Jika penetapan titik acuan tersebut secara asumsi,
maka sistim koordinat tersebut bersifat Lokal atau disebut Koordinat Lokal dan
jika ditetapkan sebagai kesepakatan berdasar matematis maka koordinat itu disebut
koordinat yang mempunyai sistim kesepakatan dasar matematisnya.
Koordinat Geografi pada Proyeksi
UTM adalah salah satu transformasi geografi yang mempunyai referensi Posisi
Acuan dan arah yang sama yaitu Titik Pusat Proyeksi untuk posisi dan arah utara
Grid di Meridian Pusat sebagai arah acuan.
UTM ( Universal Tranvers Mercator
) sistim ini telah dibakukan oleh BAKOSURTANAL sebagai sistim Proyeksi Pemetaan
Nasional. Mengapa UTM, karena
a)
Kondisi geografi negara Indonesia membujur
disekitar Garis Katulistiwa atau garis lingkar Equator dari Barat sampai ke
Timur yang relatip seimbang.
b)
Untuk kondisi seperti ini, sistim proyeksi
Tranvers Mercator/Silinder Melintang Mercator adalah paling ideal (memberikan
hasil dengan distorsi minimal).
c)
Dengan pertimbangan kepentingan teknis maka
dipilih sistim proyeksi Universal Transverse Mercator yang memberikan batasan
luasan bidang 6ยบ antara 2 garis bujur di elipsoide yang dinyatakan sebagai
Zone.
Kesimpulan
Dihubungkan dengan Konsep GIS
Karena Sistem Informasi Geografi
(GIS) merupakan metoda sajian terpadu, maka semua data masukan spasial maupun
tabular harus berupa data terpadu. Artinya, kesatuan Sistim Koordinat untuk
data spasial, kesatuan ID untuk data tabular, kesatuan dalam me-manage data
untuk sasaran informasi tersebut agar dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Fungsi Sistim Proyeksi dan transformasi sangat memegang peranan sangat penting.
Hal lain yang perlu diingat bahwa
konsep GIS memanfaatkan pula jaringan data antar Pusat dengan Daerah, antar
Instansi yang bersifat Nasional , yang sangat berguna untuk analisis terhadap
suatu dampak dari perubahan data yang masuk dalam cakupan yang lebih luas. Jadi
kesatuan dalam Sistim Koordinat adalah mutlak dalam konsep GIS.
No comments:
Post a Comment