Georeferencing
merupakan proses pemberian reference geografi dari objek berupa raster atau
image yang belum mempunyai acuan sistem koordinat ke dalam sistem koordinat dan
proyeksi tertentu. Proses ini diperlukan ketika akan melakukan input data
berupa data raster (hasil scan) ke dalam SIG (ARCGIS).
Georeferencing adalah proses penempatan objek
berupa raster atau image yang belum mempunyai acuan sistem koordinat ke dalam
sitem koordinat dan proyeksi tertentu. Pada GIS, ada 2 sistem koordinat, yaitu
geographic coordinate system/sistem koordinat geografi dan projected coordinate
system/sistem koordinat proyeksi. Untuk memudahkan dalam menentukan sistem
koordinat yang akan digunakan bisa ditandai dengan penggunaan degree/derajat
pada sistem koordinat geografi dan meter pada sistem koordinat proyeksi. Ada
beberapa kelebihan dan kekurangan pada kedua sistem koordinat tersebut.
Kelebihan dari sistem koordinat geografi adalah dapat menganalisis secara
mudah, sedangkan kelebihan dari sistem proyeksi adalah lebih detail karena
satuannya meter sehingga luasannya bisa dihitung dengan mudah. Kekurangan dari
sistem koordinat geografi adalah tidak dapat menghitung luasan/panjang pada
sistem GIS dan jika perhitungan tersebut dilakukan, tinggat error yang
dihasilkan pun akan tinggi, sedangkan kekurangan dari sistem proyeksi adalah
karena satuan yang digunakan adalah meter sehingga hanya bisa menganalisis satu
kawasan saja.
Secara umum,tahapan georeferencing pada data raster adalah sebagai
berikut :
Georeferencing Menggunakan Koordinat yang Tertcantum dalam
Peta Analog
1.
Buka Program Arc Map
dari start menu > Program > ArcGis > ArcMap, atau
buka Arc Catalog dan klik ikon
2.
Untuk menampilkan
peta yang akan diregistrasi pilih icon Add
Data atau drag file peta tersebut lewat Arc Catalog menuju
layer pada ArcMap.
Jika muncul peringatan Create Pyramid, kilik
Yes untuk membangun resolusi data tersebut, atau No, jika ingin
langsung memulainya.
3.
Aktifkan Georeferencing pada
toolbars dari View > Toolbar > Georeferencing, atau
klik kanan pada tools bar, lalu ceck Georeferencing.
4.
Beri kordinat pada layer dengan
cara klik kanan pada layer > Properties > Coordinate
system. Pilih Predefined, lalu sesuaikan dengan kebutuhan. Untuk
modul ini digunakan Geographic Coordinate System karena koordinat peta
pada latihan berupa Degree Minute second. Jika koordinat memiliki satuan
meter, pilih Projected Coordinate System > UTM > WGS 1984 > sesuaikan
dengan zona wilayah.
5.
Klik Add Control Point pada Georeferencing. X (hijau) merupakan source (koordinat
gambar) dan X (merah) merupakan destination (koordinat
sebenarnya).
6.
Zoom pada gambar koordinat yang
berpotongan untuk mempermudah pembuatan titik.
7.
Klik kiri titik perpotongan > klik kanan > input DMS or Lon and Lat. Jika koordinat
berupa Desimal Degree atau UTM, langsung pilih Input X and Y. Buat titik
ikat minimal 4 titik ikat yang bersebrangan untuk mempermudah koreksi.
Titik
ikat atau control point yang digukanan atau dibuat, minimal 4 titik pada
sudut yang berbeda. Jika terdapat Residual yang terlalu besar, bisa mendeletenya
dengan mengklik icon dan mengganti dengan control point baru yang lebih
akurat. Untuk mengecek titik ikat / control point, buka link table
pada Georeferencing tools.
Tapi, jika ingin nilai RMS Erorr lebih
baik, perhatikan hal dibawah ini.
Karena prinsipnya ialah kita membuat X and Y
source = X and Y map, maka perhatikan nilai source pada :
|
Ø X pada link 1 dan 3
|
Ø Y pada link 1 dan 2
|
|
Ø X pada link 2 dan 4
|
Ø Y pada link 3 dan 4
|
Bandingkan dengan link table sebelumnya.
Dengan sedikit merubah angka-angka yang ada di X and Y source (menyamakan
dengan menggeser titik atau mengedit angka tersebut langsung di dalam link
table) sehingga nilai Total RMS Erorr menjadi lebih baik.
Atau dengan cara merubah pada box Transformation
menjadi Adjust, maka dengan otomatis RMS Error akan berubah.
Jika telah selesai,
simpan titik ikat tersebut Save.
Selanjutnya adalah
proses rektifikasi, pilih Georeferencing -> Rectify.
Pilih folder output dan atur nama filenya (format IMG).
8.
Load
peta hasil registrasi lewat icon Add Data atau drag file peta tersebut
lewat Arc Catalog menuju layer pada ArcMap dan siap untuk proses lebih
lanjut.
Berdasarkan Feature yang
sudah ada memiliki sistem koordinat
1.
Add data berupa peta analog dan
data feature yang sudah memiliki sistem koordinat. Kondisi yang terjadi
dalam layar ialah tidak terjadi tumpang tindih antara dua file tersebut, karena
memang koordinatnya tidak sama.
Prinsinya ialah kita
menarik peta analog menuju feature yang bentuknya sama sehingga peta
analog tersebut memiliki koorinat yang sama dengan data / feature. Modul
ini mengunakan peta analog Provinsi Nusa Tenggara Barat dan data / feature batas
kabupaten Provinsi Nusa Tenggara Barat yang sudah memiliki sistem koordinat Geographic.
2.
Klik Add Control Point pada
Georeferencing. X (hijau) merupakan
source (koordinat gambar / peta analog) dan X
(merah) merupakan destination (koordinat sebenarnya / koordinat
pada feature).
3.
Pilih lokasi pada peta analog yang
mudah dikenali pada 2 peta (analog dan feature / Arc) untuk dijadikan source
X (hijau), lalu buat titik ikat di titik
tersebut.
4.
Zoom to layer pada feature
yang berada pada layer.
5.
Cari lokasi yang sama dengan titik
ikat source X (hijau).
6.
Buat titik ikat X (merah) / destination pada peta / data feature
di titik tersebut.
|
7.
Lakukan pembuatan X (hijau) source dan X (merah) destination
untuk titik-titik lainnya.
8.
Pethatikan link table untuk
mengetahui keadaan serta mengontrol titik-titik ikat.
Garis hitam tebal merupakan file berupa feature
yang digunakan sebagai acuan, sedangkan gambar yang berwarna merupakan peta
analog yang sudah mengikuti koordinat pada data feature.
9.
Selanjutnya proses rectify sama
seperti pada Bagian A. Titik ikat / control point













No comments:
Post a Comment